Marak Millenial Yang Wajib Untuk Meneladani Rasulullah Saw

 

ESSAY

Marak Millenial Yang Wajib Untuk Meneladani Rasulullah Saw Terutama Bagi UNIDA Putri Mantingan Kampus Putri

Rasulullah Saw merupakan orang yang paling benar kata-katanya, paling jujur tuturkatanya, paling memenuhi tanggung jawabnya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, randah hati dan selalu berfikir cerdas, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi membalasnya dengan memberi maaf dan jabat tangan. Barang siapa meminta sesuatu kebutuhan kepadanya maka tidak pernah ditolaknya, jika tidak ada maka dengan kata-kata yang halus dan tidak dengan hati kasar dan sikap keras, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali jika bertentangan dengan kebenaran sehingga memotong pembicaraannnya dengan larangan atau berdiri, tidak menganggap bohong kepada seseorang, tidak dengki kepadanya dan tidak memintanya untuk bersumpah.

Sebenarnya para ulama sendiri, sangat faham bahwa dunia ini tidak pernah tidak berubah, sains dan teknologi pun berkebang terus. Karena yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Maka dalam pelajaran akidah, Allah yang maha Menciptakan itulah yang qadim (dahulu tanpa permulaan) dan yang diciptakan adalah makhluk, dan makhluk itu berubah-ubah. Karena itu, apa yang harus disikapi dan dilakukan oleh para Ulama, agar generasi millenila yang lahir setelah tahun1980-an? Atau sebenarnya istilah “millenium” itu adalah hitungan satu masa periode seribu tahun, itu dihitung tahun masehi sekarang 2019, berarti kita ini berada ditahun sebagai millennium ke tiga masih agak awal. Namun konotasi millennial sekarang ini, identifikasi utamanya adalah perkembangan dan maraknya teknologi digital yang serba online, maka seolah-olah ketika kita mengatakan generasi millenila, adalah identik dengan generasi gadget, smartphone, online, dunia maya, yang sarat dengan media sosial. Dilihat dari peningkatan se Asia, Indonesia adalah urutan ke empat setelah cina, india, dan jepang. Apabila dilihat dari prilaku pengguna internet di Indonesia, yang peling banyak media sosial yang digunakan adalah facebook mencapai 71,6 juta orang (54%). Intagram 19,9 jta orang (15%), youtobe 14,5 juta orang (11%), google 7,9 juta orang (6%), tweeter 7,2 juta orang (5,5%), dan linkedin sebanyak 796 ribu (0,6%).

Dunia maya sebenarnya “nyata adanya”. Sesungguhnya ia netral saja, ia positif dan bisa juga negatif tergantung yang menggunakannya. Jika orang menggunakannya memiliki fondasi dan dasar jaminan yang kuat, maka dunia maya dengan media sosial dan onlienya, bisa digunakan untuk hal-hal yang positif. Akan tetap jika tika bisa dimanej dengan baik, potensi merusaknya juga besar. Masih maraknya pernikahan usia dini, akibat “kecelakaan” atau MBA” atau married by accident” sebagian di antaranya adalah karena kegagalan anak-anak muda memenej hati, fikiran, dan perasaannya, dalam menggunakan gadget, smartphone, dan media sosial itu selain itu konteks substansi atau konten media sosila dan isu-isu keagamaan, meminjam menurut Gus Mus, banyak dikuasai oleh orang-orang yang tidak fahan agama secara benar dan mendalam, alias ora dunung atau tidak faham, tetapi menguasai IT”. Maka mereka sering menawarkan berbagai macam informasi keagamaan menurut versi mereka, dan diduga banyak informasi yang mengajarkan teologi kekerasan, menghakimi, bahkan tidak jarang kemudian dengan mudah mengafirkan orang atau sekelompok lain.

Karena itu, para Ulama musti mampu “ menguasai” dan “menaklukkan” “makhluk” yang bernama information technology (IT). Selain itu, nasehat KH Abdul Qoyyum (Gus Qoyyum), para Ulama juga harus menambah komperensi dan kapasitas keilmuannya. Agar di dalam berdakwah bisa didengar, diperhatikan, dan bisa diikuti oleh generasi millenial. Perguruan-perguruan Tinggi Islam misalnya seperti Universitas Darussalam Gontor kampus Mantingan Putri (UNIDA), bisa bekerjasama dengan ormas keagamaan Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) Muhammadiyah, dan ormas lainnya, harus bahkan wajib hukumnya dapat menjadi leader di dalam soal pemanfaatan dunia maya ini, untuk mencerdaskan anak-anak atau generasi muda millenial.

UNIDA misalnya, Banyak dari kalangan teman kita sendiri yang mana medsos gadget seperti smartphone adalah hal yang haram untuk digunakan, jaman ini adalah jaman millenial yang mana cara apapun akan digunakan untuk mewujudkan apa yang diinginkan smartphone tidak ada maka bisa menggunakan lebtop yang mana lebtop tersebut mejadi suatu ancaman negative bagi siapa saja yang salah dalam penggunaannya dan menjadi hal positif bagi siapa saja yang menggunakannya dengan baik, karena kita hidup di zaman millenial maka contoh yang kita abil dari teman-teman UNIDA seperti beberapa dari teman-teman lebih mementingkat hal yang mereka sukai daripada hal yang mereka butuhkan, seperti mengabaikan adab, yang mana adab adalah jiwa yang membantu terwujudnya silah antara satu sama lain antar teman sesam teman terutama terhadap orang yang lebih besar derajat umurnya, dari suatu tindakan yang mengganjal itu akan menyebabkan suatu pertikaian yang akan mengakibatkan adanya tidak kesetaraan antar sepiha, maka perlu adanya teladan yang baik diantara kita seperti saling menghormati tidak mengolok dan menghargai sesama.

Karena sebenarnya Rsulullah Saw pernah memberikan wanti-wanti atau alarm, bahwa anak-anak kita ini lahir pada zaman atau era yang sudah berbeda, maka harus dipersiapkan dengan lebih baik. Sekarang ini anak-anak masih sangat muda, usia belum masuk sekolah taman kanak-kanak, mereka sudah terampil bermain smartphone. Maka wajar apabila ada organisasi badan dunia, mengatakan bahwa bermain smartphone termasuk alat yang bisa menjadikan kecanduan atau adiktif. Karena itu, orang tua dan lingkungan keluarga menjadi pendidik dan pengasuh utama untuk membekali pemahaman dan sekaligus mengawali mereka, agar mereka kelak menjadi geerasi yang melek gadget, smartphone, dan dunia maya, namun bisa lebih banyak mengambil manfaatnya, guna menambah pengetahuan, berbisnis, bersilaturrahim, dan bertukar ilmmu, dan mempu meninggalkan yang negative. Generasi muda millennial adalah milik kita. Sebagai orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan ulama, berkewajiban untuk mendidik, membesarkan, dan menanamkan mereka akidah dan Bergama (Islam) secara modernt, tasamuh, bersaudara, namun tidak kehilangan prinsip, akidah, dan khithah perjuangan untuk melahirkan umat yang terbaik atau khaira ummah. Allah a’lam bis sh-shawab.

Memang era Rasulullah SAW sudah terjadi jauh sebelum generasi millenial ada. Namun keteladanan Rasulullah masih bisa dijadikan panutan hingga saat ini. Segala ucapan dan perilaku Nabi masih relevan dengan yang terjadi di era yang jauh lebih modern seperti sekarang ini. Di era millenial ini, kerukunan antar umat terus diganggu dengan merebaknya hoax dan ujaran kebencian. Padahal, Nabi tidak pernah mengajarkan atau memberikan contoh untuk saling membenci, memaki apalagi melakukan persekusi. Akibatnya, kerukunan antar umat beragama menjadi hal sulit diwujudkan. Padahal, piagam Madinah telah mengajarkan tentang pluralisme, toleran dan saling menghormati antar sesama. Semestinya, di era ketika ilmu pengetahuan dan informasi menjadi raja, semestinya tingkat literasi pun juga menguat. Dan tingkat kesabaran masyarakat semestinya juga bisa lebih terjaga, karena mau bohong atau memprovokasi akan hal apapun, akan dengan mudah terlacak berkat kecanggihan teknologi. Karena itulah, mari kita terus meneladani Rasulullah SAW. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar National dan pembagian hadiah National Calligraphy Competition (NCC) oleh Al-Ustadz Muhammad Nur Lc.M.H

Langkahku (cerpen)

Hadirmu Adalah Hidupku