Seminar National dan pembagian hadiah National Calligraphy Competition (NCC) oleh Al-Ustadz Muhammad Nur Lc.M.H
Seminar
National dan pembagian hadiah National Calligraphy
Competition (NCC) oleh Al-Ustadz Muhammad Nur Lc.M.H
UNIDA Mantingan- Gedung pasca sarjana menjadi sejarah dalam memasuki puncak acara, paramujahidah-mujahidah pemudi UNIDA turut berbondong-bondong dalam melengkapi acara penutupan National Calligraphy Competition (NCC), sekaligus pembagian hadih bagi para pemenang, tepat pada hari Jum’at pagi jam 08.00 wib, tanggal 20 Desember 2019. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memberikan motivasi kepada para kaligrafer putri agar mampu mengembangkan bakat dan kreativitasnya dalam peradaban Islam yang telah luntur akan keindahan dalam kepenulisan tulisan Arab atau yang biasa kita sebut dengan kaligrafi. Dalam hal ini para Ustadz sangat mendukung acara ini karena dengan acara ini menjadikan para kaligrafer putri mencapai puncak keunggulannya dan kemampuannya hingga tak tersisa sastupun dari para kaligrafer yang mundur dan mereka sangat termotivasi terhadap para pemenang dengan tulisannya yang indah. Perlombaan ini memiliki penilain yang sangat ketat karena dalam daftar pemenang wajib meletakkan titik-titik hurufnya kedalam haknya masing-masing sehingga terlihat sangat sulit dan sangat mustahil untuk memenangkan lomba tersebut, tetapi tidak untuk saat ini terdapat beberapa peserta yang lolos dalam perlombaan ini dengan nilai pemerolehan Riq’ah 465 430 425 Diwani 365 360 345. Untuk riq’ah diperoleh oleh Juara satu Nihan Hanina dari jombang, juara dua Jusmida dari mantingan, dan juara tiga Nur Diana Khalida dari jember, untuk Diwani diperoleh oleh juara satu Fitri Dewi Masyitoh dari jombang, juara dua Desi Rahmawati dari palembeng, dan juara tiga Niza Nurlaila dari pati. Kemudian hadiah demi hadiah dibagikan, dengan penuh rasa bangga setelah berusaha dengan sangat keras dan penuh perjuangan akhirnya saya dapat imbalannya sebuah kejutan yang saya tidak pernah menyangka untuk mendapatkannya saya sangat bersyukur dalam acara ini.
Beberapa tips dan motivasi dari peserta pemenang Fitri Dewi Masyitoh dari jombang ia mengatakan “saya mengalami banyak proses alhamdulialah sampai detik ini saya masih berusaha saya bertekat nanti diakherat saya mendapatkan tempat atau ruangan yang mana dipertemukan oleh para khatat terdahulu, belajarlah apapun yang kalian pelajari adek adek bisa belajar semuanya karena Allah, karena saya mendalami banyak hal yang sangat luarbiasa yang saya alami jatuh bangun, jadi saya memilih moment untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mendalami khat. Dari dulu saya memang telah suka menulis arab dengan tulisan apa adanya, dengan pena-pena apa adanya memang dari saya kecil. Sehingga dulu keika di MTS saya mendapatkan guru yang memberikan saran kepada saya untuk mengikuti lomba. Setelah beberapa kali saya mengikuti lomba-lomba alhamdulillah memenangkan beberpa perlombaan, saya memanfaatkan diluar waktu saya selalu melakukan karya-karya dan menghabiskan waktu untuk terus latihan walaupun tanpa guru, saking cintanya saya sama khat hingga saya tidak tahu waktu saya kira hanya sesore tetapi saya telah melalaui 3 hari tidak makan tidak minum dan tidak tidur karena saya tidak sadar. Bahkan ketika saya melihat tulisan al-Qur’an, dan tulisan arab lainnya saya akan menulis karena tangan saya merasa kosong ketika tidak menulis. Ketika saya bertemu ustadz ato’ saya jatuh cinta dengan metode yang diberikan ustadz tersebut, kunci cuman satu lakukan semua itu sama Allah tujuan cuman satu apapun itu semua atas nama Allah, saya berharap ini semua dapat memtivasi kalian, mulai dari SD sampe orang-orang besar saya menjadi guru mereka dalam mengajar khat. Di khat saya melihat keindahannya dan kerena ini khat adalah sebagian dari keindahan Allah, mulai dari niat harus dibersihkan, semangat dan konsisten untuk terus menulis”.
Memasuki acara seminar yang diisi oleh Al-Ustadz
Muhammad Nur dalam tema Reposisi Peradaban Islam Melalui Seni Kaligrafi
Peradaban muncul karena adanya pandangan, bagaimana seorang
muslim memiliki pengangan setelah banyak pandangan atau wordview muslim
terdapat budaya luar dari barat maka dalam Tulisan arab tidak ada yang
terpengaruhi oleh wordview mereka mengapa, karena dari zaman dahulu Tulsan “waw”
sampai detik ini sama tetap “waw”, karena kaligrafi dari dulu hingga sekarang
penulisnya adalah orang arab maka dari itu maka kita tidak perlu ragu lagi
dalam mempelajai kaligrafi. Setiap aktifitas manusia dalam melakukan kegiatan
dalam kehidupan ini adalah wordview, jadi jika ingin mengubah prilaku maka kita
harus mengubah cara pendang. Otoritas keilmuan dan dimulai dari isu sekulerasi,
mesti memiliki makna disekulerasi paling berbahasa adalah Ilmu yaitu menafikan
agama, bagi kita itu dimulai dengan basmalah atau alfatihah tetapi
disekralisasi tidak menggunakan itu semua, mereka berfikir bahwa itu semua
tidak termasuk dalam apa yang kita lakukan, yang diawali oleh orang yang tidak
memiliki adab. Adab adalah salah satu dari Ilmu maka bagi orang yang berilmu
jika tidak memiliki adalam maka ilmunya kurang lengkap atau intellectual corruption.
Kita selalu menjaga adanya sekralisasi dan bukan sebaliknya.
Adab terhadap guru terutama guru kaligrafi, selama ada
gurunya maka kita tidak boleh ngomong dengan yang lainnya, tidak boleh menyela ketika
guru berbicara, tidak boleh memusuhi murid dari guru, barang siapa yang
diberikan cobaan tetapi ia lalai atau meremehkan maka ia akan celaka seumur
hidupnya.
Saya sebagai penulis yang memiliki posisi sebagai
jurnalis UNIDA dengan prodi PBA Reguler UNIDA semester 6 nama Magfiroh
Turrofiah, sangat bertermakasih kepada pembaca telah meluangkan waktu untuk membaca
beberapa berita acara yang terdapat di UNIDA mantingan terimakasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Komentar
Posting Komentar